Kenapa Orang Yang Tidak Shalat Tetapi Rezekinya Banyak ?

Kenapa Orang Yang Tidak Shalat Tetapi Rezekinya Banyak ?
Kenapa Orang Yang Tidak Shalat/Beribadah Tetapi Rezeki dan Hartanya  Banyak ?

Bang, bagaimana tuch ada orang yang ngga sholat tetapi rizki berlimpah, ma'siyat melulu, maaf bang, sampai berzina tetapi dikantor malah naik pangkatnya, korupsi malah semakin sukses?
 
http://4.bp.blogspot.com/-t29Ojpb0WJY/UonZvvOUw1I/AAAAAAAAFwY/VIF0y1GuO_4/s1600/hadis+harta+bhk.jpg
 
 
 
Sahabatku, dunia ini ujian. Diuji dg ni'mat bersyukur dg taat atau tidak, diuji musibah bersabar taat atau tidak. Kalau pun ma'siyat sukses itu "istidraj" namanya, azab yang tertunda.
 
Rasulullah bersabda,
"Bila kamu melihat Allah menganugerahkan kenikmatan kpd seorang, sementara ia terus dalam ma'siyat, maka itulah "istidraj". Lalu beliau membaca surah Al An'am 44-45,
 
"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yg telah diberikan kpd mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dg apa yg telah diberikan kpd mereka, Kami siksa mereka dg sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yg zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam" (HR Thabrani).
 
Sekali lagi simak surah Al Fajr ayat 15-16,
"Adapun manusia yg diuji dg keni'matan dunia, ia mengira Tuhannya memuliakannya, sedangkan mereka yg diuji dg kesusahan rizki, ia mengira Tuhannya menghinakannya. Jangan begitu manusia...".
 
So mulai saat ini jangan pernah iri hati pada siapapun, jangan sibuk mengurus mereka yg sukses dalam ma'siyat kecuali mendoakannya agar meraih hidayah Allah dan ber'da'wah jika mampu...
 
 
https://sulvisuardi.files.wordpress.com/2014/01/wpid-screenshot_2014-01-27-22-37-26-1.png?w=640
 
 
Sibukkanlah pada muhasabah diri agar kita bukan hanya menjadi hamba yg sabar dari ujianNya tetapi pandai mensyukuri ni'matNya...aamiin.
 
 
1
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kita paling tidak bisa lepas dari sifat yang satu ini. Jika memiliki harta berlebih, handphone yang smart, yang terlihat mentereng dan mahal, pasti ingin sekali dipamer-pamerkan. Selalu berbangga dengan harta dan perhiasan dunia, itulah jadi watak sebagian kita.

 

Semoga Allah memberikan taufik pada kita untuk merenungkan surat berikut ini.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. (7) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (8).” (QS. At Takatsur: 1-8)

 

Saling Berbangga dengan Anak dan Harta

Inilah watak manusia saling berbangga dengan keturunan dan harta. Lihatlah bagaimana jika kita memiliki anak yang pintar, pasti akan dibanggakan. Begitu pula ketika kita memiliki harta mewah, sama halnya dengan hal tadi.

Ibnu Jarir menyebutkan tafsiran ayat “أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ” dari Qotadah. Maksud ayat tersebut adalah seperti menyatakan, “Kami lebih banyak dari keturunan si fulan, atau keturunan A lebih unggul dari keturunan B. Kebanggaan itu semua melalaikan hingga mereka mati dalam keadaan sesat.” (Tafsir Ath Thobari, 24: 598-599)

Yang dimaksud berbangga di sini adalah dalam harta sebagaimana tafsiran sebagian ulama. (Lihat Tafsir Ath Thobari, 24: 599)

Ibnu Katsir berkata, “Kecintaan terhadap dunia, kenikmatan dan perhiasannya telah melalaikan kalian dari mencari akhirat. Hal itu pun berlanjut dan baru berhenti ketika datang maut dan ketika berada di alam kubur saat kalian menjadi penghuni alam tersebut.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 442)

Al Hasan Al Bashri berkata mengenai ayat di atas, “Berbangga-bangga dengan anak dan harta benar-benar telah melalaikan kalian dari ketaatan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 442)

http://karyadigital.files.wordpress.com/2013/02/530859_560931437253347_1144478979_n.jpg

Harta dan Kebanggaan akan Sirna

Berbangga-bangga seperti di atas sehingga membuat lalai dari ketaatan baru berhenti ketika seseorang masuk ke alam kubur. 

Dari Qotadah, dari Muthorrif, dari ayahnya, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat “أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ” (sungguh berbangga-bangga telah melalaikan kalian dari ketaatan), lantas beliau bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى - قَالَ - وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?” (HR. Muslim no. 2958) 

 

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim no. 2959) 

 

Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Yang akan mengiringi mayit (hingga ke kubur) ada tiga. Yang dua akan kembali, sedangkan yang satu akan menemaninya. Yang mengiringinya tadi adalah keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali. Sedangkan yang tetap menemani hanyalah amalnya.” (HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960) 

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَبْقَى مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ وَالأَمَلُ

“Jika manusia berada di usia senja, ada dua hal yang tersisa baginya: sifat tamak dan banyak angan-angan.” (HR. Ahmad, 3: 115. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

 

Al Hafizh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq menyebutkan biografi Al Ahnaf bin Qois –nama yang biasa kita kenal adalah Adh Dhohak-, bahwasanya beliau melihat dirham di genggaman tangan seseorang. Lantas Al Ahnaf bertanya, “Dirham ini milik siapa?” “Milik saya”, jawabnya. Al Ahnaf berkata, “Harta tersebut jadi milikmu jika engkau menginfakkannya untuk mengharap pahala atau dalam rangka bersyukur.” Kemudian Al Ahnaf berkata seperti perkataan penyair,

أنتَ للمال إذا أمسكتَه ... فإذا أنفقتَه فالمالُ لَكْ ...

Engkau akan menjadi budak harta jika engkau menahan harta tersebut,

Namun jika engkau menginfakkannya, harta tersebut barulah jadi milikmu. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 443)

Kenapa dikatakan harta yang disedekahkan atau disalurkan sebagai nafkah itulah yang jadi milik kita? Jawabnya, karena harta seperti inilah yang akan kita nikmati sebagai pahala di akhirat kelak. Sedangkan harta yang kita gunakan selain tujuan itu, hanyalah akan sirna dan tidak bermanfaat di akhirat kelak. 

 

Sekali-kali Lihatlah Orang di Bawahmu

Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata,

أَمَرَنِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ أَمَرَنِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِي أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي

Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): (1) Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. ...” (HR. Ahmad, 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim no. 2963)

 

Al Ghozali –rahimahullah- mengatakan, “Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (Lihat Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, 1/573)

 

Mengapa Mesti Berbangga-bangga?

Mengapa kita mesti berbangga-bangga, sedangkan harta hanyalah titipan.

Mengapa kita mesti berbangga-bangga, sedangkan harta yang bermanfaat jika digunakan dalam kebaikan.

Semua yang digunakan selain untuk jalan kebaikan, tentu akan sirna dan sia-sia.

Seharusnya yang kita banggakan adalah bagaimana keimanan kita, bagaimana ketakwaan kita di sisi Allah, bagaimana kita bisa amanat dalam menggunakan harta titipan ilahi.

Al Qurthubi pernah menerangkan mengenai ayat berikut ini,

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7).

 

Beliau berkata, “Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian bukanlah miliki kalian pada hakikatnya. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta tersebut yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian. ”

Lantas Al Qurtubhi menutup penjelasan ayat tersebut, “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholih di antara kalian, lalu mereka menginfakkan harta mereka di jalan Allah, bagi mereka balasan  yang besar yaitu SURGA.” (Tafsir Al Qurthubi, 17/238)

 

Raihlah surga Allah, raihlah jannah-Nya. Itulah yang mesti kita cari dan kita kejar.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا

Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikanSesungguhnya kepada Allah-lah tempat kalian semua kembali.” (QS. Al Ma’idah: 48)

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat sombong dan membanggakan diri dalam hal harta dan dunia. Karuniakanlah pada kami sifat qona’ah, selalu merasa berkecukupan.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf –menjauhkan diri dari hal haram- dan sifat ghina –hidup berkecukupan-) (HR. Muslim no. 2721)

 

 
 
 
Makhluk Apakah yang Paling Membingungkan di Dunia ini ?

Jawabannya "Manusia",

Karena dia "Mengorbankan Kesehatannya" hanya "Demi uang";
Lalu dia "Mengorbankan Uang-uangnya demi Kesehatannya kembali".

Lalu dia "Sangat Khawatir" dengan "Masa Depannya", sampai' dia "Tidak Menikmati Masa Kini";

akhirnya dia "Tidak Hidup di Masa Depan atau pun di Masa Kini";

dia "Hidup Seakan-akan Tidak Akan Mati",
lalu dia "Mati" tanpa "Benar-benar Menikmati" apa itu "Hidup".

Friends, bersyukurlah apa yang selama ini kita dapati dan kita nikmati. Karena kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi hari esok.

~» Ketika lahir dua tangan kita kosong...
ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong...

~» Waktu datang dan waktu pergi kita tidak membawa apa²...

~» Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan..

~» Jangan minder karena miskin dan hina oleh manusia yg sombong dengan pinjaman oleh Allah SWT di dunia ini..
Kelak mereka akan ditanya darimana dan dikemanakan harta yg telah dititipi oleh Allah SWThttp://2.bp.blogspot.com/-trvByPf4ZhU/UaV1Ph42bpI/AAAAAAAAAgU/48ziDwuhkzI/s1600/mencari-rezeki.png



 

~» Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita didunia ini hanyalah pinjaman...

~» TETAPLAH RENDAH HATI seberapapun kehebatan kita...

~» TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita...

~»Datang ke dunia ditemani oleh Tangis.....
Pergi dari dunia juga ditemani oleh Tangis.....

~» Maka dari itu TETAPLAH BERSYUKUR, dalam segala keadaan apa pun, dan HIDUPLAH disaat yg benar-benar ada dan nyata utk kita, yaitu SAAT INI, bukan dari bayang2 MASA LALU maupun mencemaskan MASA DATANG yg belum lagi tiba..

yang penting , lakukanlah sesuatu yang bermanfaat dan menjadi ladang pahala saat ini , detik ini karena kesempatan untuk itu belum tentu muncul di detik berikutnya , bersyukurlah bila anda masih mampu bernafas saat ini , detik ini ,

Ingat !!, ketidak kekalan bisa hadir setiap saat ,
kita tidak bisa prediksi , mana yg datang duluan, ketidak kekalan atau hari esok.

~» Karena kita hadir kedunia tidak membawa harta apa-apa dan kembali juga tidak membawa harta apa-apa...
Hanya pahala (karma) kebaikan atau dosa (karma) kejahatan yang dapat kita bawa. yg kelak akan dipertangung jawabkan..

HIDUPLAH DENGAN SEDERHANA..

HINDARI BERHUTANG. MELAKUKAN KREDIT, MENCICIL SESUATU
JANGAN BERMEWAH-MEWAHAN..

ORANG YANG PALING BAHAGIA ADALH ORANG YANG TIDAK MEMILIKI HUTANG, CICILAN..
SERTA HIDUP SEDERHANA APA ADANYA..

http://www.syaifulmaghsri.com/wp-content/uploads/2014/04/fabiayyi-ala-irobbikuma-tukadziban-artinya-fabiayyi-aalaaa-irobbikumaa-tukadziban-Fabiayyi-ala-fabiayyi-ala-irobbikuma-tukadziban-fabiayyi-aalaaairobbikumaa-tukadziban-fabiayyi-ala-i-robbikuma-tukadziban-fabiayyi-alaa-.jpg

Iblis la’natulloh alaih, sebelum dia terusir ke dunia, berjanji kepada Alloh ‘Azza wa Jalla untuk menggelincirkan manusia dan akan menghalangi mereka untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bersyukur.


Alloh menceritakan perkataan Iblis ini,

“Kemudian sungguh akan kami datangi mereka (bani Adam) dari arah depan, arah belakang, samping kanan dan samping kiri mereka, sehingga tidak akan Kau dapati kebanyakan di antara mereka yang bersyukur.” (QS. 7: 17)


Dan terbuktilah apa yang dikatakan oleh iblis, sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh yang artinya,

“Dan sedikit sekali golongan hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. 34: 13)


“Lihatlah orang yang yang ada di bawahmu dan janganlah kamu melihat orang yang ada di atasmu. Hal itu akan lebih baik bagimu agar kamu tidak meremehkan nikmat Alloh yang yang diberikan kepadamu.” (HR. Bukhori Muslim)

 


 

 

Video diambil dari Kajian Maarifatullah Masjid Daar'ut Tuhid
Setiap hari Kamis Malam jam 19.30 WIB - 21.00 live streaming DI MQFM BANDUNG

 

Kalau koneksi kalian lambat, kalian bisa gunakan Internet Download Manager bwt download Video-video diatas
Klik TULISAN "Download Video from this page"
Klik/Pilih format yg belakangnya ada "3gp file quality 144"
Setelah selesai download bisa dilihat menggunakan software VLC Media Player / K-Lite Codec Pack atau software Video yg ada di PC/laptop kalian...
 
Semoga bermanfaat dunia akhirat...
 
 
http://www.voucher-pulsa.net/gbrartikel/bersyukurlah.jpg
 
 
1
 
 
Sungguh #bahagia orang yang merasa CUKUP ( #qanaah ) ..
Walaupun dia bukan orang KAYA ..
#Alhamdulillah ... Segala Puji #Syukur bagi Allah ..
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

قد أفلح من أسلم و رزق كفافا وقنع الله بما آتاه

“Telah beruntung orang Muslim dan merasa cukup dengan rezeki yang diberikan kepadanya, serta #qonaah dengan apa yang Allah Ta'ala anugerahkan kepadanya”. (HR. Muslim dan At-Tirmidzi).

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kekayaan tidak diukur dengan banyaknya materi, akan tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati."
(HR. At-Tirmidzi Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2318
 
 
Semoga kita dapat menjadi hamba yang bersyukur. Sungguh telah banyak nikmat yang telah ALLAH Azza Wa Jalla anugerahkan. Dan semua kelak akan ditanya, benarkah kita telah memanfaatkan nikmat tersebut dengan benar.
 
http://myfitriblog.files.wordpress.com/2014/05/hisabkekayaan.jpg?w=450&h=298
 
 
Ingatlah setiap barang yang kita miliki harus dikeluarkan zaktanya..
(baca juga: Menghitung Zakat Yang Harus Dikeluarkan )

Beruntunglah Anda yang rezekinya cukup & tidak silau dengan Harta Dunia
karena Hisabnya tidak terlau berat diakhirat kelak..

Nikmat terbesar di dunia ini adalah nikmat iman, diberi pengetahuan agama Islam untuk diamalkan & juga nikmat syukur
 
 
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan dunia (rezeki) kepada orang yang Dia cintai maupun yang tidak Dia cintai. Sedangkan Dia memberikan agama (ilmu agama) hanya kepada orang yang Dia cintai, maka barangsiapa yang diberi agama (ilmu agama) oleh Allah, maka Dia telah mencintainya.” (HR. Ahmad)
 
 
 
video Kajian Ma'rifatullah Darut Tauhid K.H. Abdullah Gymnastiar
  1. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah.
  2. Tafsir Al Qurthubi (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an), Muhammad bin Ahmad Al Anshori, terbitan Dar Ihya At Turots, 1405 H.
  3. Tafsir Ath Thobari (Jaami’ Al Bayan li Ta’wili Ayyil Qur’an), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, terbitan Maktabah Hijr.
Status Nasehat
modified and added by agunkzscreamo
Format Lainnya : PDF | Google Docs | English Version
Diposting pada : Senin, 21 April 14 - 05:34 WIB
Dalam Kategori : KENAPA ORANG TIDAK SHOLAT BISA KAYA, SOLAT, SHALAT, SHALAT REZEKI, ISLAM, SHOLAT TAPI REZEKI SEDIKIT, INSPIRASI ISLAMI, BERSYUKUR, KENAPA ORANG GAK SHALAT UANGNYA BANYAK, BERSYUKUR DENGAN REZEKI
Dibaca sebanyak : 7065 Kali
AGUNKz scrEaMO {Agung YuLy Diyantoro} BlogAGUNKz scrEaMO {Agung YuLy Diyantoro} Blog · BACA JUGA: Menghitung Zakat Yang Harus Dikeluarkan
http://10507276.blog.unikom.ac.id/menghitung-zakat.7ag
Diposting pada : Sabtu, 16 Agustus 14 - 21:08 WIB
Anda harus Login terlebih dahulu untuk mengirim komentar
Facebook Feedback

My Social-Net Accounts, You can Follow.. mungkin suatu hari nanti kita berjodoh (‾⌣‾)♉
ADS & Sponsor
Posting Terbaru Lainnya
Last Visitors
TRANSLATOR
Pengenalan
Kategori
Alexa Rank