Protes, Twitter Ancam Akan Boikot #twitterblackout
Tapi ancaman ini terlihat sangat rapuh karena tidak cukup banyak orang yang memboikot. Kicauan masih memenuhi linimasa. Apa yang disebut #twitterblackout tidak sampai membuat Twitter mati atau menghancurkan bisnis perusahaan yang dirintis Jack Dorsey ini.
Twitter mulai membuat aturan sensor di sejumlah negara. Mereka menulis dalam blognya bahwa sejumlah negara mempunyai konsep yang berbeda tentang kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat.
"Beberapa negara berbeda sekali dengan ide kami sehingga kami mungkin tidak bisa hadir di sana," tulis mereka.
Twitter menyatakan sistem baru juga membawa transparansi yang lebih besar. Mereka tidak akan menyaring konten sebelum di-posting. Mereka juga tidak akan membuang material yang mungkin terdengar penuh perlawanan.
Hanya, jika materi tersebut ilegal, mungkin kebijakan tersebut diambil. Jika pengguna mengalami sensor, maka Twitter berjanji akan mengirimi mereka e-mail dengan penjelasannya.
Perusahaan akan mengidentifikasi lokasi pengguna berdasarkan alamat Internet protokol (IP) dari komputer atau pesawat seluler. Tetapi Twitter pun membolehkan pengguna untuk mengatur lokasi mereka atau memilih "worldwide".
Ini adalah salah satu cara menghindari sensor. Misalnya pengguna dari Siria bisa menganti lokasinya dengan "worldwide".
Pengamat melihat bahwa Twitter mencoba bertahan di sejumlah negara dengan pemerintahan yang menekan dan membatasi. Twitter tidak ingin mendapat amarah dari otoritas setempat yang bisa menyebabkan mereka memblokir jejaring sosial 140 karakter ini.
Bagi sejumlah orang ini mengerikan, tapi secara ekonomi ini adalah bagian dari bisnis. Selamat datang di dunia dewasa, Tweeps.
REUTERS | NYTIMES | DIANING SARI
Diposting pada : Minggu, 29 Januari 12 - 16:35 WIB
Dalam Kategori : TWITTER, SOPA, ACTA, PIPA, PROTES, TWITTER ANCAM BOIKOT #TWITTERBLACKOUT









